Isi Hati Saya Tentang Digitalisasi Kabupaten Empat Lawang: Ingin Berkontribusi, Tapi Harus Mulai dari Mana?

Landotech
0

Di artikel kali ini, aku mau cerita personal di blog ini.

Mungkin ini bakal jadi salah satu artikel paling jujur yang pernah aku tulis. Aku mau cerita apa yang selama ini ada di pikiranku, apa yang aku rasakan, dan apa yang sebenarnya ingin aku lakukan untuk daerahku sendiri.

Jujur, di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, menurutku masih banyak hal yang kurang, masih banyak yang perlu dibenahi, dan masih banyak hal yang perlu ditanamkan, terutama soal sistem dan digitalisasi.

Emang sih, mungkin banyak orang pintar, cerdas, dan punya kemampuan luar biasa di daerahku ini. Aku juga nggak pernah menganggap Empat Lawang kekurangan orang hebat. Tapi, menurut pengamatanku, orang yang benar-benar punya niat untuk membawa perubahan dan memperbaiki sistem masih terasa sedikit.

Aku sering mikir, sebenarnya apakah seseorang itu harus jadi jahat dulu baru bisa diterima?

Kenapa orang yang punya niat baik dan ingin melakukan perubahan justru kadang berakhir berhadapan dengan orang-orang yang punya kekuasaan?

Hampir tiga tahun aku memikirkan bagaimana caranya membuat sesuatu yang lebih baik. Bagaimana caranya ikut berkontribusi, menghadirkan sistem yang lebih bagus, dan membuat sesuatu yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Tapi, ternyata memikirkan perubahan itu nggak selalu menyenangkan. Ada konsekuensi yang rasanya pahit banget ketika kita punya niat untuk melakukan sesuatu, tetapi kenyataan yang dihadapi ternyata nggak sesederhana yang dibayangkan.

Apakah Sistem Memang Seperti Itu?

Aku kadang bertanya-tanya, apakah sistem pemerintahan memang sekeras itu terhadap orang yang ingin melakukan perubahan?

Sebagai contoh, dari sudut pandangku, aku melihat sosok seperti Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang dikenal dengan pendekatan tegasnya. Aku melihat ada keberanian untuk mengambil sikap dan keinginan untuk memperbaiki sesuatu.

Tentu, setiap kebijakan punya sisi yang bisa dinilai berbeda oleh setiap orang. Tapi, yang ingin aku bicarakan sebenarnya bukan soal satu tokoh saja.

Aku sedang memikirkan sesuatu yang lebih besar.

Apakah orang yang punya niat baik dan ingin memperbaiki sistem akan selalu berhadapan dengan kepentingan lain yang lebih kuat?

Aku nggak tahu jawaban pastinya.

Tapi, pertanyaan ini sering muncul di pikiranku. Apalagi ketika aku melihat bagaimana orang yang ingin membawa perubahan bisa saja menghadapi berbagai hambatan.

Sampai akhirnya aku bertanya kepada diriku sendiri.

Gimana sih cara berkontribusi supaya kita bisa membawa perubahan tanpa harus terus-menerus berhadapan dengan orang-orang yang punya niat berbeda?

Apa harus punya jabatan dulu? Harus punya banyak uang? Harus dikenal banyak orang? Atau memang harus menunggu sampai ada orang yang mau memberikan kesempatan?

Jujur, aku sendiri masih mencari jawabannya.

Aku Ingin Berkontribusi untuk Sistem dan Digitalisasi

Oke, aku langsung ke intinya aja.

Sebenarnya, aku ingin banget bisa berkontribusi terhadap sistem dan digitalisasi, terutama untuk daerahku sendiri.

Aku ingin ikut membangun sesuatu yang bisa membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, pelayanan menjadi lebih cepat, dan masyarakat nggak perlu mengeluarkan terlalu banyak biaya hanya untuk mengurus sesuatu yang seharusnya bisa dilakukan dengan sederhana.

Aku merasa sudah lumayan lama mempelajari konsep, alur kerja, dan bagaimana sebuah sistem seharusnya dibangun. Kurang lebih sudah lima tahun aku mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan bidang ini.

Memang, mungkin ada pihak yang menganggap pengalaman lima tahun itu belum cukup. Aku bisa memahami pandangan tersebut karena membangun sistem bukan cuma soal bisa membuat aplikasi atau menjalankan teknologi.

Ada banyak hal lain yang harus dipikirkan, mulai dari keamanan, pemeliharaan, integrasi, sampai bagaimana sistem tersebut bisa digunakan dalam jangka panjang.

Tapi, dari pengalaman dan kemampuan yang aku punya, menurutku aku sudah cukup siap untuk ikut menghadirkan gagasan dan membantu membangun sistem yang lebih baik.

Setidaknya, aku ingin diberi kesempatan untuk menunjukkan apa yang bisa aku kerjakan.

Kadang aku juga bertanya kepada diriku sendiri.

Apakah memang belum waktunya?

Apakah umurku yang sekarang baru 28 tahun membuat orang belum cukup yakin dengan kemampuanku?

Apakah karena belum banyak orang yang mengenalku?

Atau ada aspek lain yang selama ini belum aku pahami?

Aku nggak tahu.

Yang aku tahu, aku punya keinginan untuk melakukan sesuatu. Bukan cuma membicarakan perubahan, bukan cuma mengkritik keadaan, tetapi ikut mengerjakan sesuatu yang menurutku bisa memberikan manfaat.

Kenapa Sistem Sederhana Harus Menghabiskan Biaya Puluhan Juta?

Nah, bagian ini adalah pengalaman yang cukup membuatku berpikir.

Aku pernah punya keinginan untuk mengajukan sistem digitalisasi desa dan beberapa sistem lainnya. Aku ingin berkontribusi di daerahku sendiri, dimulai dari lingkungan yang paling dekat denganku.

Tentu, aku paham bahwa membangun sistem membutuhkan biaya. Ada tenaga kerja, waktu, perangkat, infrastruktur, pemeliharaan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Aku juga nggak mengatakan bahwa semua pekerjaan harus gratis.

Tapi, coba bayangkan situasi yang aku temui.

Ada kebutuhan untuk membuat sistem digitalisasi sederhana. Dari sudut pandangku, kebutuhan seperti itu bisa dikerjakan dengan biaya yang relatif terjangkau, tergantung fitur dan spesifikasinya.

Sementara itu, aku pernah melihat penawaran dari pihak lain yang nilainya mencapai belasan juta rupiah untuk sistem yang menurutku masih tergolong sederhana.

Bayangkan, ada penawaran sekitar Rp15.000.000 untuk sebuah sistem yang menurut penilaianku bisa dibangun dengan kebutuhan biaya jauh lebih rendah.

Aku sampai berpikir, wah, kok bisa sejauh itu perbedaannya?

Bahkan, dalam perkiraanku sendiri, untuk pekerjaan dengan ruang lingkup tertentu, biaya operasionalnya mungkin hanya sekitar Rp200.000 sampai Rp500.000, di luar tenaga kerja, waktu pengerjaan, pemeliharaan, dan kebutuhan lain yang mungkin muncul.

Aku bahkan pernah berpikir, kalau mengerjakan sesuatu untuk daerahku sendiri, mungkin aku cukup dibantu menyediakan kopi, makan, dan rokok. Hehehehe.

Tapi, itu cara aku menggambarkan keinginanku untuk membantu, bukan berarti semua pekerjaan profesional memang cukup dihargai segitu.

Aku tahu, harga sebuah sistem nggak bisa ditentukan hanya dari tampilan atau fitur yang kelihatan sederhana. Ada perbedaan antara membuat sistem dari nol, menggunakan perangkat lunak yang sudah tersedia, mengatur konfigurasi, melakukan integrasi, sampai memastikan semuanya berjalan dengan baik.

Namun, justru di situlah pertanyaanku.

Kalau kebutuhan yang sama bisa dipenuhi dengan teknologi yang lebih terjangkau, kenapa harus mengeluarkan biaya jauh lebih besar tanpa terlebih dahulu membandingkan alternatifnya?

Kalau pihak lain menggunakan teknologi tertentu, aku juga bisa mempelajarinya. Kalau mereka menggunakan perangkat lunak atau engine yang sudah tersedia, aku juga bisa menggunakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan.

Mungkin pendekatan dan konfigurasi yang digunakan berbeda. Tapi, menurutku, yang paling penting adalah bagaimana sistem tersebut bekerja, seberapa aman sistemnya, dan apakah hasilnya benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Aku bukan sedang mengatakan bahwa semua penyedia jasa memasang harga terlalu mahal. Aku juga nggak bisa menyimpulkan bahwa dua sistem memiliki kualitas yang sama hanya karena spesifikasinya terlihat mirip.

Aku cuma ingin mengatakan bahwa menurutku masih ada ruang untuk membuat pembangunan sistem digital menjadi lebih efisien dan terjangkau.

Apalagi kalau yang dibangun adalah sistem untuk membantu pelayanan masyarakat.

Menurutku, efisiensi seperti ini layak dipikirkan secara serius.

Nah, Jadi Barang Siapa?! Hehehehe.

Nah, ini dia bagian yang sebenarnya ingin aku sampaikan.

Barang siapa?! Barang siapa nih?! Hehehehe.

Kalau ada teman-teman dari Empat Lawang yang membaca artikel ini, mungkin bisa ikut menyampaikan apa yang sedang aku pikirkan.

Aku ingin berkontribusi terhadap kemajuan daerah kita sendiri.

Kalau ada pihak pemerintah, perangkat desa, atau lembaga yang memang sedang membutuhkan gagasan dan tenaga untuk membangun sistem digitalisasi, aku ingin diberi kesempatan untuk ikut terlibat.

Tapi, ada satu hal yang ingin aku tekankan.

Aku ingin semuanya jelas dan tegas.

Kalau memang aku diberi tanggung jawab untuk membangun sebuah sistem, aku ingin ada kesepakatan yang jelas tentang apa yang harus dikerjakan, bagaimana ruang lingkupnya, bagaimana proses pengerjaannya, dan bagaimana sistem itu nantinya dikelola.

Aku nggak mau semuanya berjalan plin-plan. Aku ingin ada tujuan yang jelas dan hasil yang benar-benar bisa digunakan.

Soal bagaimana sistem itu akan didistribusikan atau diterapkan, tentu bisa dibicarakan bersama sesuai kebutuhan dan aturan yang berlaku.

Aku ingin ikut membantu membangun sistem yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat dan lembaga pemerintahan.

Misalnya, pelayanan administrasi kependudukan, pencarian data, pendataan pertanian, penyaluran bantuan, sampai pelayanan dari lembaga pemerintah lainnya.

Aku membayangkan bagaimana kalau berbagai pelayanan tersebut bisa dibuat lebih mudah melalui sistem digital yang terintegrasi.

Bukan sekadar punya website supaya terlihat modern, tetapi benar-benar punya sistem yang membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien.

Bayangkan Kalau Mengurus Administrasi Bisa Lebih Cepat

Coba kita bayangkan.

Misalnya, suatu hari nanti ada pelayanan administrasi kependudukan yang bisa dilakukan secara online untuk proses-proses yang memang memungkinkan.

Masyarakat nggak harus selalu datang ke kantor hanya untuk memulai pengurusan, mengisi formulir, atau mengecek status permohonan.

Kalau datanya sudah tersedia dan prosesnya bisa diverifikasi secara digital, beberapa tahapan bisa dibuat jauh lebih sederhana.

Bahkan, untuk layanan tertentu, proses yang sebelumnya membutuhkan waktu lama mungkin bisa dipangkas secara signifikan.

Aku membayangkan, kalau ada proses yang bisa diselesaikan dalam lima menit melalui sistem online, kenapa harus dibuat berbelit-belit?

Tentu, bukan berarti semua penerbitan KTP bisa selesai lima menit. Ada tahapan verifikasi, persyaratan, dan proses administrasi yang tetap harus dipenuhi. Tapi, bukankah kita bisa berusaha mengurangi waktu tunggu dan proses yang sebenarnya bisa diotomatisasi?

Menurutku, itu jauh lebih masuk akal.

Kemudian, coba kita lihat sektor pertanian.

Bagaimana kalau data pertanian bisa dikelola secara digital, diperbarui secara berkala, dan digunakan untuk membantu proses pendataan maupun penyaluran bantuan?

Petani bisa lebih mudah memperoleh informasi. Data menjadi lebih terstruktur. Pihak terkait juga bisa memantau perubahan kondisi di lapangan dengan lebih baik.

Tentu, sistemnya harus dirancang dengan benar agar data tetap akurat dan tidak justru menambah pekerjaan baru bagi petugas maupun petani.

Lalu, bagaimana dengan pelayanan SKCK, SIM, pembayaran pajak, dan berbagai urusan lainnya?

Kalau tahapan yang memungkinkan bisa dilakukan secara online, masyarakat bisa menghemat waktu, biaya transportasi, dan tenaga.

Untuk layanan yang memang mewajibkan verifikasi identitas, pemeriksaan fisik, atau kehadiran langsung, tahap tersebut tetap dilakukan sesuai ketentuan.

Tapi, setidaknya, proses yang bisa dipermudah nggak perlu dibuat lebih rumit dari yang seharusnya.

Bayangkan kalau semuanya dirancang dengan baik.

Masyarakat lebih mudah mengakses layanan. Petugas terbantu dalam mengelola data. Proses administrasi lebih tertata. Penggunaan anggaran juga bisa dievaluasi dengan lebih transparan.

Enak banget, kan?

Kalau menurutku, teknologi itu seharusnya memang seperti ini. Bukan sekadar sesuatu yang terlihat canggih, melainkan sesuatu yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih mudah.

Sebenarnya, Aku Juga Memikirkan Masyarakat

Kalau dipikir-pikir lagi, gagasan yang aku ceritakan tadi sebenarnya bukan hanya tentang diriku sendiri.

Aku juga memikirkan bagaimana masyarakat bisa merasakan manfaat dari sistem yang lebih baik.

Aku membayangkan kalau orang-orang di daerahku bisa mengurus berbagai kebutuhan dengan lebih cepat, tanpa harus mengeluarkan biaya perjalanan berkali-kali atau kehilangan banyak waktu untuk urusan administrasi.

Aku membayangkan petani bisa mendapatkan informasi yang lebih jelas.

Aku membayangkan pemerintah desa bisa mengelola data dengan lebih teratur.

Aku membayangkan anak-anak muda di Empat Lawang punya lebih banyak kesempatan untuk belajar teknologi dan ikut membangun daerahnya sendiri.

Dan yang paling penting, aku ingin teknologi bisa dimanfaatkan secara nyata, bukan cuma menjadi pembicaraan.

Mungkin buat sebagian orang, hal-hal seperti ini terdengar terlalu idealis.

Tapi, menurutku, kalau kita nggak pernah membayangkan sesuatu yang lebih baik, bagaimana kita bisa mulai membangunnya?

Aku juga sadar bahwa membangun sistem untuk pemerintahan bukan perkara kecil. Ada aturan, keamanan data, anggaran, tanggung jawab, dan banyak hal yang harus diperhatikan.

Aku nggak menganggap diriku paling hebat atau paling tahu segalanya. Aku masih perlu belajar, berkembang, dan bekerja sama dengan orang lain.

Tapi, apakah itu berarti aku nggak boleh menawarkan kemampuan yang sudah aku punya?

Apakah aku harus menunggu sampai semuanya sempurna baru boleh mulai berkontribusi?

Menurutku, kesempatan untuk berkontribusi seharusnya bisa dibuka bagi siapa saja yang punya kemampuan, gagasan, dan kemauan untuk bekerja secara bertanggung jawab.

Bukan hanya bagi mereka yang sudah punya jabatan atau nama besar.

Aku Nggak Tahu Kapan Kesempatan Itu Datang

Jujur, aku sendiri nggak tahu kapan kesempatan seperti itu akan datang.

Mungkin sekarang belum waktunya. Mungkin aku masih perlu memperluas pengalaman, membangun portofolio, atau mengenalkan kemampuan yang aku punya kepada lebih banyak orang.

Bisa juga ada banyak hal yang harus aku benahi dari diriku sendiri.

Aku terbuka terhadap kemungkinan itu.

Tapi, satu hal yang aku tahu, keinginan untuk berkontribusi ini sudah cukup lama ada di pikiranku.

Aku ingin melihat daerahku berkembang. Aku ingin melihat sistem yang lebih baik. Aku ingin kemampuan yang aku pelajari selama ini bisa memberikan manfaat yang lebih luas.

Dan kalau suatu hari ada kesempatan untuk mengerjakan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, aku ingin mengambil bagian di dalamnya.

Bukan karena ingin terlihat hebat.

Bukan juga karena ingin dianggap paling pintar.

Aku hanya ingin apa yang aku pelajari selama ini bisa menghasilkan sesuatu yang nyata.

Kalau memang ada sistem yang bisa dibuat lebih baik, kenapa nggak kita coba perbaiki bersama?

Kalau ada biaya yang bisa dihemat tanpa mengorbankan kualitas, kenapa nggak kita cari cara yang lebih efisien?

Kalau ada pelayanan yang bisa dipermudah dengan teknologi, kenapa nggak kita mulai memikirkannya dari sekarang?

Bukankah pada akhirnya kita semua ingin hidup di lingkungan yang lebih baik?

Jadi, Menurut Kalian Gimana?

Nah, sekarang aku ingin bertanya kepada teman-teman yang membaca artikel ini, khususnya yang berada di Kabupaten Empat Lawang.

Menurut kalian, apakah anak muda yang punya kemampuan dan niat untuk membangun sistem digital seharusnya diberi kesempatan untuk berkontribusi bagi daerahnya sendiri?

Apakah digitalisasi pelayanan desa dan pemerintahan bisa menjadi salah satu langkah untuk membuat pelayanan masyarakat lebih cepat, hemat, dan transparan?

Dan kalau kalian punya pengalaman di bidang teknologi, pemerintahan, atau pembangunan daerah, aku juga ingin tahu pendapat kalian.

Aku menulis artikel ini bukan karena merasa paling benar. Aku hanya sedang menyampaikan apa yang aku pikirkan dan apa yang ingin aku perjuangkan.

Siapa tahu, dari tulisan sederhana ini, ada orang yang membaca, memahami maksudku, lalu membuka ruang diskusi yang selama ini belum pernah terjadi.

Siapa tahu juga, suatu saat nanti, gagasan yang sekarang hanya menjadi isi pikiran bisa benar-benar diwujudkan menjadi sebuah sistem yang bermanfaat untuk masyarakat Empat Lawang.

Karena menurutku, perubahan nggak selalu harus dimulai dari orang besar.

Kadang, perubahan justru dimulai dari seseorang yang punya keresahan, punya gagasan, lalu berani menyampaikan apa yang ada di pikirannya.

Dan kali ini, aku cuma ingin bilang: aku ingin ikut berkontribusi untuk daerahku sendiri.

Kalau memang ada jalan untuk itu, aku ingin mencoba.

Bener nggak tuh?


#EmpatLawang #DigitalisasiDesa #DigitalisasiDaerah #TeknologiDigital #PelayananPublik #SistemDigital #TransformasiDigital #AnakMudaEmpatLawang #PembangunanDaerah #CeritaPersonal #SumateraSelatan #TeknologiIndonesia

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Tq atas komentarnya kakak!

Posting Komentar (0)
3/related/default